Masa Terindah = Masa-Masa di Sekolah (SMA)
Tiada masa paling indah... Masa-masa di sekolah Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih di sekolah
(Obbie Messakh - Kisah Kasih di Sekolah)
(Obbie Messakh - Kisah Kasih di Sekolah)
https://www.kompasiana.com-Benarkah masa-masa terindah seseorang ada di sekolah? Dan ternyata
moment sekolah yang paling indah adalah di tingkat SMA?. Barangkali
logikanya anak usia SD secara sosial belum mengerti benar tentang esensi
pertemanan, dan usia setelahnya (saat SMP) masih lebih dekat ke dunia
anak-anak daripada ke arah dunia orang dewasa. Masa SMA adalah masa
transisi dari usia remaja menuju kedewasaan awal, sehingga logika orang
dewasa bagi anak usia SMA sudah masuk dalam frame berpikirnya.
Saat yang sama usia SMA ini belum punya beban dan tekanan sebagaimana layaknya orang dewasa. Jadi wajar dalam rentang usia SMA yang ada adalah kesenangan-kesenangan tanpa tekanan. Dan usia transisi ini juga merupakan usia yang rawan sesungghnya, karena walau belum dewasa (secara kematangan psikologis maupun biologis) tapi seluruh fungsi dan peranan yang ada tidak jauh berbeda dengan orang yang berusia dewasa.
Sebenarnya apa saja yang bisa membuat
masa-masa SMA itu berkesan? kenapa begitu banyak orang ingin kembali ke
masa SMA-nya? padahal bisa jadi waktu SMA-nya, dia sendiri sering
mengeluh karena jenuh dan bosan jadi anak SMA.Dari sejumlah pembicaraan di beberapa grup atau komunitas sosial baik yang maya (on line) maupun yang real (offline) tentang masa SMA ini, ternyata di ketahui ada beberapa faktor kenapa masa-masa SMA di sebut masa-masa paling indah di kalangan semua orang :
1. Sesuatu yang kita dapatkan sewaktu SMA, tidak didapatkan pada saat kuliah apalagi setelahnya.
Banyak pengalaman positif (juga negatif) berasal atau di mulai
saat usia SMA. Usia ini berbeda dengan usia SMP, di mana saat usia SMP,
yang dilakukan seseorang ketika itu lebih pada solidaritas teman atau
akibat dari tekanan sosial lingkungan pergaulan. Masa SMA, pilihan yang
dilakukan seseorang sudah mulai lebih independen dan mulai dipenuhi
unsur-unsur rasional. Keinginan untuk diakui sebagai orang dewasa juga
mulai menggoda. Maka wajar di usia SMA, kebutuhan untuk memiliki “teman
spesial” demikian besar. Apalagi ini dirasakan secara mayoritas,
sehingga usia SMA ini usia di mana secara massal terjadi “perlombaan”
mendapatkan teman khusus tadi. Dan tentu saja, “pertemanan” ini sendiri
lebih pada pemenuhan kebutuhan sosial daripada yang lainnya.
Dengan mudah sekali orang berganti teman khusus dan sebaliknya tak
terlalu punya banyak beban bila pada akhirnya ditinggalkan atau
meninggalkan teman mereka. Wajar saja rasa bosan, jenuh dan ingin
mencoba sebanyak mungkin teman lainnya demikian besar, saat yang sama
ini juga dialami oleh lawan jenis mereka, jadilah kondisi ini seakan
menjadi budaya yang melingkupi usia anak-anak SMA. Terlepas dari baik
dan buruknya, jelas budaya ini tidak bisa lagi dilakukan di luar masa
SMA. Karena pergaulan pasca SMA lebih berorientasi pada pergaulan yang
bukan bersifat sosial semata. Saat kuliah (bila dia kuliah) atau kerja,
orang lebih hati-hati dalam bergaul, karena sudah menyangkut
tanggungjawab dan sejumlah prasyarat lain yang lebih serius yang akan
membarengi hubungan yang terjalin.
2. Kebersamaan
Ikatan komunal usia SMA juga termasuk yang
paling kuat di banding sebelum atau setelah usia SMA. Usia ini lagi-lagi
adalah usia penemuan jatidiri yang mulai ditapaki, orang sudah mulai
meninggalkan masa anak-anak dan remaja. Saat yang sama, ia sesungguhnya
cukup cemas dengan masa depannya. Jadilah di usia ini sifat komunal
tumbuh kuat sebagai sebuah jalan mengurangi rasa cemas. Maka dari itu,
acara-acara jalan-jalan bareng, nongkrong bareng, bolos bareng sampai
di setrap (di hukum) bareng merupakan sesuatu yang dinikmati anak usia SMA. Tokh
mereka sadar, sudah mulai ada konsekuensi yang harus di terima yang
berbeda dengan usia sebelumnya. Misalnya saat memilih jurusan, ketika ia
memilih eksakta (fisika dan biologi pada jaman dahulu) tentu saja ia
menyadari akan seperti apa masa depan mereka kelak dengan pilihan ini.
Dan begitu mereka merasa berkomunitas (sesuaijurusan-nya masng-masing), maka dengan sendirinya mereka harus beraktualisasi dalam peer group mereka ini. Perasaan satu nasib, satu pilihan (walaupun bisa jadi awalnya terpaksa) atau satu entitas menyatukan dan membuat kohesivitas
pertemanan menjadi demikian erat. Kadang secara ekstrem, bila
menyangkut kelompok atau komunitas mereka, persoalan salah dan benar
bisa terabaikan. Karena dibalik kesiapannya menuju proses kedewasaan, ia
masih diliputi rasa cemas secara personal. Ia membutuhkan teman dan
juga komunitas yang sedikit banyak bisa memberikan rasa aman.
Secara umum remaja laki-laki menyadari dirinya butuh teman dari
lawan jenis memang agak terlambat. Ya, laki-laki rata-rata mulai berani
menjalin komunikasi dengan lawan jenis pada usia SMA. Lain dengan
wanita, mereka secara umum justeru merasakan kebutuhan ini kala usia
SMP. Tapi karena umumnya wanita tak pernah berani mengungkapkan rasa
ini, jadilah seakan masa SMA tetap merupakan masa pertama menjalin
komunikasi.
Orang bule biasanya bilang first love, sedang orang Indonesia sendiri banyak mengistilahkan kondisi ini dengan sebutan cinta monyet.Entah
kenapa di sebut cinta monyet, padahal monyet-nya sendiri tidak pernah
sekolah apalagi melakukan hal ini di sekolah. Di mana-mana tidak ada
yang namanya monyet bisa sekolah, apalagi sampai tingkat SMA. Tapi
entahlah, siapa yang memulai menggunakan istilah ini. Sebetulnya
perasaan kuat untuk berteman secara khusus (yang orang umumnya bilang
pacaran) lebih dilatarbelakangi karena adanya perasaan cemas yang
melingkupi mereka. Semakin kecemasan ini muncul, semakin perasaan ingin
berbagi dan bercerita secara khusus dengan orang tertentu semakin kuat.
Di saat yang sama, ini juga sekaligus ajang mereka menunjukkan bahwa
mereka bisa diterima secara sosial oleh orang lain. Kedua
perasaan ini (kecemasan akan masa depan dan kuatnya diakui secara
sosial) kadang melahirkan sikap yang membabi buta. Seakan-akan bahwa
pacaran di usia SMA adalah sebuah keharusan. Anehnya, walau hubungan ini
tak bermakna apa-apa, hampir semua orang sepakat bahwa justeru moment seperti itu yang tidak pernah bisa mereka lupakan seumur hidup mereka.
Bukti bahwa masa ini masa paling rawan sekaligus indah adalah,
betapa banyak pasangan yang telah bertahun-tahun menikah justeru
mengalami kegoncangan setelah suami atau isteri mereka mengadakan reuni
(tanpa pasangan masing-masing ikut serta) tingkat SMA. Banyak
kejadian-kejadian masa lalu seseorang yang kemudian meng-obsesi kembali
mereka dan menggoda mereka untuk melanjutkan atau meneruskan masa lalu
yang telah terlewati, padahal fase sebenarnya sudah berbeda. Inilah
penyakit sebuah reuni bila para pesertanya punya obsesi masa lalu yang
tak kesampaian.
4. Guru
Nah, kalau yang satu ini, biasanya yang
paling diingat dengan baik oleh kita adalah guru yang menempati posisi
ter (paling). Umumnya ada pada nominasi guru yang paling galak (hobby
memberi hukuman, guru yang paling
baik, paling lucu (dengan segala definisinya seperti ; kocak, culun, dan
paling “mengibakan” (membuat kita iba ; misalnya sering tidak match
ketika berpakaian, atau kelewat menor, kelewat atraktif atau malah
kelewat lebay). Adapun guru lainnya yang juga tak akan bisa dilupakan
siswa adalah guru yang berwibawa, terlihat dan terbukti
cerdas dan guru yang sering membantu kegiatan siswa di sekolah, baik di
intra maupun ekstra kurikuler. Sedangkan untuk guru yang biasa-biasa
saja, jangankan prestasinya atau kelebihannya, namanya saja barangkali
sudah tidak ada lagi dalam memori otak para siswa.
Itulah beberapa hal yangkata penyanyi Obbie Messakh kenapa orang-orang banyak berkata bahwa masa-masa SMA itu adalah masa-masa yang terindah.Kenapa disebut terindah, karena masa-masa itu masa tidak bisa kita temukandi masa yang lainnya, bahkan di dunia kuliah sekalipun, apalagi di dunia kerja.
(DS)
Komentar
Posting Komentar